Thursday, September 22, 2005

A Letter from Satan

I saw you yesterday as you began your daily chores. You awoke without kneeling to pray. As a matter of fact, you didn't even bless your meals, or pray before going to bed last night. You are so unthankful, I like that about you. I cannot tell you how glad I am that you have not changed your way of living, Fool, you are mine. Remember, you and I have been going steady for years. And I still don't love you yet. As a matter of fact, I hate you, because I hate God. I am only using you to get even with God. He kicked me out of heaven, And I'm going to use you as long as possible to pay him back. You see, Fool, GOD LOVES YOU and HE has great plans in store for you. But you have yielded your life to me, and I'm going to make your life a living hell. That way, we'll be together twice. This will really hurt God. Thanks to you, I'm really showing Him whom's boss in your life with all of the good times we've had. We have been watching dirty movies, cursing people out, stealing, lying, being hypocritical, fornicating, overeating, telling dirty jokes, gossiping, being judgmental, back stabbing people, disrespecting adults, and those in leadership positions, no respect for the Church, bad attitudes. SURELY you don't want to give all this up. Come on, Fool, let's burn together forever. I've got some hot plans for us. This is just a letter of appreciation from me to you. I'd like to say "THANKS" for letting me use you for most of your foolish life. You are so gullible, I laugh at you when you are tempted to sin, and you give in HA HA HA, you make me sick. Sin is beginning to take its toll on your life. You look 20 years older, And now, I need new blood. So go ahead and teach some children how to sin. All you have to do is smoke, get drunk or drink while under-aged, cheat, gamble, gossip, fornicate, and live being as selfish as possible. Do all of this in the presence of children and they will do it too. Kids are like that.
Well, Fool, I have to let you go for now. I'll be back in a couple of seconds to tempt you again. If you were smart, you would run somewhere, confess you sins, and live for God with what little bit of life that you have left. It's not my nature to warn anyone, but to be your age and still sinning, it's becoming a bit ridiculous. Don't get me wrong; I still hate you.

IT'S JUST THAT YOU'D MAKE A BETTER FOOL FOR CHRIST.

P.S. If you really love me, you won't share this letter with anyone.

Tuesday, September 13, 2005

Uang kelip untuk Tuhan

Pada suatu waktu ketika orang masih bisa membeli es krim dengan sekelip (lima sen), ada seorang anak yang tinggal di suatu kota kecil dengan ibunya. Setiap Minggu ibunya mengajak anak itu ke gereja dan selesai kebaktian mereka pergi ke kota untuk membeli es krim. Pada suatu hari Minggu ibu itu merasa kurang sehat, dan ia berkata pada anaknya agar pergi ke gereja sendiri. Ia memberi dua kelip pada anaknya – satu untuk persembahan dan satu lagi untuk es krim.
Dalam perjalanannya ke gereja anak itu harus melalui sebuah jembatan tua. Ketika berada di atas jembatan anak itu berloncat-loncat dan ia senang ketika jembatan itu bergoyang-goyang. Namun telinganya yang tajam mendengar suara uang jatuh, ternyata salah satu uang kelipnya jatuh dan bergulir ke antara lubang retakan di jembatan. Ia mencoba menangkap uang itu tetapi uang itu menggelinding masuk di sela retakan dan jatuh ke sungai. Dengan tak berdaya anak itu melihat uang itu ditelan arus sungai. Anak itu berdiri lagi dan membersihkan lututnya, dan berkata, “Ah tak apa, itu uang kelip yang untuk Tuhan.”
Sering bila kita sedang kekurangan uang, maka Tuhanlah yang tidak memperoleh bagian. Bila kita kekurangan waktu, Tuhanlah yang harus menunggu. Bila kita kehabisan energi, Tuhanlah yang kita minta menggantinya.
Tuhan membalik urutan prioritas itu ketika Ia berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Bila Anda memberikan yang paling utama dan yang terbaik dari yang Anda miliki, maka Tuhan akan memberkati Anda dengan memberikan semua yang Anda perlukan dan lebih!
From Still More Hot Illustrations for Youth Talksby Wayne Rice.
Copyright1999 by Youth Specialties, Inc. (17 November 2001)

SOCRATES DAN PENGETAHUANNYA

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan filsuf besar itu dan berkata, “ Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?”
“Tungggu beberapa menit,” Socrates menjawab. “Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana. Ini disebut Triple Filter Test.”
“Triple Filter?”
“Benar,” kata Socrates. “Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test.”
Filter pertama adalah KEBENARAN. “Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?”
“Tidak,” jawab orang itu, “sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu."
“Baik,” kata Socrates. “ jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?”
“Tidak, malah sebaliknya …”
“Jadi,” Socrates melanjutkan, “Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada satu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN. Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?”
“Tidak, samasekali tidak.”
“Jadi,” Socrates menyimpulkan, “ bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, buruk dan bahkan tak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya pada saya?”
Itulah mengapa Socrates adalah filsuf besar dan sangat terhormat. Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang kawan dekat atau kawan yang Anda kasihi.
(16 Ags 02)

Friday, September 09, 2005

7 Deadly sins

1. Envy: The desire for others' traits, status, abilities or situation.
2. Gluttony: An inordinate desire to consume more than that which one requires.
3. Lust: An inordinate craving for the pleasures of the body.
4. Wrath: Also known as fury, rage or anger.
5. Greed: The desire for material wealth or gain, ignoring the realm of the spiritual.
6. Pride: Excessive belief in one's own abilities.
7. Sloth: The avoidance of physical or spiritual work.

If you share any of these guilty pleasures, my friends, your very immortal soul may be at risk.

Berapa saya harus bayar?

Ayah saya adalah seorang pendeta di suatu desa. Cerita ini merupakan bagian dari memori masa kecil saya. Ketika itu kami tinggal di suatu rumah pertanian yang indah dekat Wayland, Michigan, yang dipinjamkan ke gereja sebagai rumah pastori.

Pada suatu Sabtu pagi, saya pergi dengan ayah ke kota. Di jalan ayah melihat papan yang menawarkan telur segar dan ayah hendak membelinya. Ayah berhenti di depan sebuah rumah pertanian berwarna kuning yang dinaungi pohon-pohon rindang. Saya menunggu di mobil. Ayah mengatakan akan segera kembali. Tetapi tidak. Ini memang bagian yang tak lepas dari seorang anak pendeta. Percakapan bisa segera menjadi menarik dan menunggu adalah tugas biasa bagi saya. Akhirnya ayah melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal kepada pasangan tua di sana dan kembali ke mobil dengan gembira.

Dia menjelaskan pada saya yang terjadi di rumah itu. Ketika berbicara dengan pasangan itu, pembicaraan sampai ke hal-hal rohani. Ayah menanyakan pada mereka pertanyaan yang telah saya dengar ditanyakannya pada ratusan orang lainnya; “Apakah Anda yakin, bahwa bila Anda meninggal hari ini, Anda akan naik ke sorga?”

Rasul Yohanes, teman dekat dan murid Yesus menulis; “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (1 Yoh 5:13). Ayah selalu bertanya langsung pada orang apakah mereka tahu bahwa mereka memiliki hidup yang kekal. Pasangan itu tidak yakin maka ayah pun duduk di meja mereka dan menunjukkan beberapa ayat dari Alkitab Perjanjian Baru kecil yang selalu dibawanya dalam saku. Ayah menggunakan beberapa ayat dari Kitab Roma untuk menunjukkan pada mereka empat hal:

  • Setiap orang di muka bumi ini adalah pendosa. (Roma 3:10, 23)
  • Upah untuk dosa adalah hukuman maut di neraka. (5:12, 6:23a)
  • Yesus wafat di kayu salib untuk membayar hukuman bagi para pendosa. (6:23b, 5:8)
  • Kehidupan kekal adalah anugerah bagi mereka yang percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus. (10:9, 13)

Ketika ayah selesai menjelaskan jalan keselamatan dari Alkitab pada pasangan tua itu, air mata mengalir membasahi pipi mereka. Ayah memimpin doa singkat untuk keselamatan dan sukacita yang telah datang ke rumah tua itu. Ayah pergi dengan membawa telur dan meninggalkan pada mereka jaminan keselamatan abadi.

Dalam perjalanan ayah bercerita pada saya sesuatu yang selalu saya ingat. Ia berkata, setelah selesai mengucapkan doa dan ia bangkit untuk meninggalkan tempat itu, petani tua itu mengambil dompetnya dari sakunya dan membukanya. “Terima kasih pendeta,” ia berkata, “berapa saya harus bayar?’

Ayah mengajarkan pada mereka pelajaran pertama sebagai orang Kristen yang baru. Ia menjelaskan bahwa keselamatan adalah karunia yang tak ternilai dan tak ada uang di dunia ini yang bisa membelinya. Itu dibeli dengan dengan darah Yesus Putra Allah satu-satunya. Jadi membayar untuk itu tidaklah mungkin. Ini adalah bagian dari sukacita kehidupan Kristiani. Kehidupan abadi adalah karunia yang dibeli dan dibayar oleh Yesus. Kita tidak mungkin membayarnya. Tetapi karunia keselamatan mengilhami ribuan pemberian dalam hati anak-anakNya.

Kenneth L. Pierpont Pine Street Parsonage Fremont, Michigan (21 Oktober 02)

Thursday, September 08, 2005

Ini pun akan berlalu....

Seorang petani kaya mati meninggalkan kedua putranya. Sepeninggal ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. Sampai suatu hari mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta warisan ayahnya.Setelah harta terbagi, masih tertinggal satu kotak yang selama ini disembunyikan oleh ayah mereka. Mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin di dalamnya, yang satu terbuat dari emas bertahtakan berlian dan yang satu terbuat dari perunggu murah.Melihat cincin berlian itu, timbullah keserakahan sang kakak, dia menjelaskan, "Kurasa cincin ini bukan milik ayah, namun warisan turun-temurun dari nenek moyang kita. Oleh karena itu, kita harus menjaganya untuk anak-cucu kita. Sebagai saudara tua, aku akan menyimpan yang emas dan kamu simpan yang perunggu."
Sang adik tersenyum dan berkata, "Baiklah, ambil saja yang emas, aku ambil yang perunggu." Keduanya mengenakan cincin tersebut di jari masing-masing dan berpisah.Sang adik merenung, "Tidak aneh kalau ayah menyimpan cincin berlian yang mahal itu, tetapi kenapa ayah menyimpan cincin perunggu murahan ini?" Dia mencermati cincinnya dan menemukan sebuah kalimat terukir di cincin itu: INI PUN AKAN BERLALU. "Oh, rupanya ini mantra ayah...," gumamnya sembari kembali mengenakan cincin tersebut.Kakak-beradik tersebut mengalami jatuh-bangunnya kehidupan. Ketika panen berhasil, sang kakak berpesta-pora, bermabuk-mabukan, lupa daratan. Ketika panen gagal, dia menderita tekanan batin, tekanan darah tinggi, hutang sana-sini. Demikian terjadi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan batinnya, sulit tidur, dan mulai memakai obat-obatan penenang. Akhirnya dia terpaksa menjual cincin berliannya untukmembeli obat-obatan yang membuatnya ketagihan.Sementara itu, ketika panen berhasil sang adik mensyukurinya, tetapi dia teringatkan oleh cincinnya: INI PUN AKAN BERLALU. Jadi dia pun tidak menjadi sombong dan lupa daratan. Ketika panen gagal, dia juga ingat bahwa: INI PUN AKAN BERLALU, jadi ia pun tidak larut dalam kesedihan. Hidupnya tetap saja naik-turun, kadang berhasil, kadang gagal dalam segala hal, namun dia tahu bahwa tiada yang kekal adanya. Semua yang datang, hanya akan berlalu. Dia tidak pernah kehilangan keseimbangan batinnya, dia hidup tenteram, hidup seimbang, hidup bahagia.

Menikah

Benarkah menikah didasari oleh kecocokan?
Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng..
Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah...(is that simple?........)

Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan,
menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi
saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya.

Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya
akan lancar.. Lalu apa? MENIKAH adalah proses pendewasaan.
Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani.
Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk
menemukan jalan keluarnya.

Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?
Harus ada 'Komunikasi Dua Arah','Ada kerelaan mendengar kritik',
'Ada keikhlasan meminta maaf', 'Ada ketulusan melupakan kesalahan,
dan Keberanian untuk mengemukakan pendapat'.

Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta,
bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil
undangan yang memacetkan jalan.

MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal
pesiar yang gemerlap memanggil-manggil

MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu
ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan
hanyalah bunga.

Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa,
bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah
perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling
tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama...

MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda.
Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang
lain...?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa
memperhatikan pasangan hidup...??

MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi,
toleransi sedalam samudra,serta jiwa besar untuk 'Menerima' dan 'Memaafkan'.

* Kesalahan terbesar kita dalam memilih pasangan adalah kita lebih
mementingkan dengan siapa kita menikah bukan seperti apa orang yang
akan kita nikahi. Kita lebih melihat dari fisik orang tersebut bukan
kualitas orang tersebut"

Wednesday, September 07, 2005

SILSILAH (....jokes)

Dahulu kala, pada saat saya baru berumur 23 tahun saya menikah dengan seorang janda yang cantik. Janda ini mempunyai seorang putri yang beranjak dewasa dengan rambut yang menawan. Ayah saya yang duda tertarik dengannya sehingga akhirnya mereka menikah juga.
Hal ini sangat merubah kehidupan saya karena ayah saya sekarang telah menjadi mantu saya sendiri dan putri saya berubah menjadi ibu saya karena dia isteri dari ayah saya. Kejadian ini begitu kompleks walaupun juga menyenangkan. Tidak lama setelah itu, saya mempunyai seorang putra yang lucu. Putra mungil saya ini sekarang menjadi ipar dari ayah saya dan yang lebih menyedihkan anak saya sekarang adalah juga paman saya karena dia saudara dari putri si janda yang adalah ibu tiri saya. Kemudian ayah saya dikaruniai seorang putra lagi dengan isterinya. Anak mereka ini yang adalah adik saya sekarang juga adalah cucu saya karena dia adalah putra dari putri saya. Kalau dipikir pikir memang menyedihkan karena isteri saya sebetulnya juga adalah nenek saya sekarang karena dia adalah ibu dari ibu saya, putri si janda. Jikalau isteri saya adalah nenek saya maka berarti saya adalah cucu dari isteri saya sendiri.Hal ini memang kasus aneh dan mengherankan karena saya telah menjadi suami dari ibu saya yang juga adalah nenek saya, padahal saya juga telah menjadi seorang kakek.
"@#$%^&*!/~....."
Nehemia 7:64
Kiriman: "Magdalena"

Tuesday, September 06, 2005

Belajar mendengarkan

Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam. Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukkan tepat tengah malam. Dengan panik aku segera mengangkat gagang telepon. "Hallo?" dadaku berdegup-degup kencang. Aku memegang gagang telepon itu erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat.
"Mama?" terdengar suara di seberang sana. Aku masih bisa mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telepon. Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku. "Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan... jangan berkata apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini aku lari dari rumah, dan..."
Aku tercekat. Nafasku tersengal-sengal. Aku lepaskan cengkeraman pada suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak beres.
"...Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang. Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar-benar cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari yang lalu, tapi aku takut... takut..."
Ia menangis terisak-isak. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba. Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih, "Begini..." "Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara." ia meminta. Ia tampak putus asa.
Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, "Aku hamil ma. Aku tahu tak semestinya aku mabuk sekarang, tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh takut!" Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan, "Siapa itu?" Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Dan ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil membawa telepon portable. Ia mengangkat telepon portable yang tersambung pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik. Lalu suara tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, "Mama, apakah mama masih ada di sana? Jangan tutup teleponnya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian."
Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta pertimbangannya. "Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telepon," kataku. "Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi terkadang aku tak membutuhkan nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku."
Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku tertuju pada pamflet "Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda" yang tergeletak di sisi tempat tidurku. "Mama mendengarkanmu," aku berbisik. "Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah panggil taxi. Aku mau pulang sekarang." "Itu baik sayang," kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan dadaku.
Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya."Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil sendiri" "Jangan," cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman tangan suamiku. "Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup telepon ini sampai taxi itu datang." "Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama." "Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk mamamu."
Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya, aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya mengemudikan mobil itu sendiri. "Nah, itu taxinya datang." Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega. "Aku pulang ma," katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu. Airmata meleleh dari mataku.
Aku berjalan keluar menuju kamar anak gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari belakang. Dagunya ditaruh di atas kepalaku. Aku menghapus airmata dari pipiku. "Kita harus belajar mendengarkan," kataku pada suamiku. Ia terdiam sejenak, dan bertanya, "Kau pikir, apakah gadis itu sadar kalau ia telah menelepon nomor yang salah?" Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku, "Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah."
"Ma? Pa? Apa yang terjadi?," terdengar gadisku menggeliat dari balik selimutnya. Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, "Kami baru saja belajar," jawabku. "Belajar apa?" tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam lagi. "Belajar mendengarkan," bisikku sambil mengusap pipinya.
(Terima kasih pada siapapun yang telah menulis cerita ini.)(5 Mei 2002)

Mazmur 23

Ini adalah pembuka mata, mungkin kita tak pernah berpikir atau melihat Mazmur 23 dengan cara ini, sekalipun kita telah membacanya berulang-ulang.

TUHAN adalah gembalaku,
Ini adalah relasi,
takkan kekurangan aku.
Ini adalah pasokan.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau
Ini adalah istirahat
Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ini adalah kesegaran.
Ia menyegarkan jiwaku.
Ini adalah penyembuhan.
Ia menuntun aku di jalan yang benar
Ini adalah bimbingan.
oleh karena nama-Nya.
Ini adalah tujuan.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
Ini adalah pencobaan.
aku tidak takut bahaya,
Ini adalah perlindungan.
sebab Engkau besertaku;
Ini adalah penyerahan.
gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Ini adalah disiplin.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku;
Ini adalah pengharapan.
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;
Ini adalah pengkudusan.
pialaku penuh melimpah.
Ini adalah kelimpahan.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;
Ini adalah berkat.
dan aku akan diam dalam rumah Tuhan.
Ini adalah rasa aman.
sepanjang masa.
Ini adalah kekekalan.
(12 Nov 02; inhis.com)

Kekuatan kata-kata

Sekelompok katak berjalan melewati hutan, dan dua di antaranya terperosok ke dalam sebuah sumur yang dalam. Katak yang lain berkumpul di sekitar sumur itu. Ketika mereka melihat betapa dalamnya sumur itu, mereka berkata pada kedua katak itu sebaiknya mereka mati saja.
Kedua katak itu tidak menghiraukan komentar kawan-kawannya itu dan berusaha melompat keluar dari sumur dengan segenap kekuatan mereka. Katak-katak yang lain berteriak agar mereka menyerah, sebaiknya mereka mati saja. Akhirnya salah satu katak mengikuti yang diteriakkan teman-temannya dan menyerah. Ia jatuh dan mati.
Katak yang lain terus meloncat sekuat ia bisa. Sekali lagi, kawan-kawannya berteriak agar katak itu menghentikan usahanya yang sia-sia dan mati saja. Tetapi katak itu berusaha makin kuat dan akhirnya berhasil keluar. Setelah berada di luar, katak-katak yang lain bertanya, “Kau dengarkah teriakan kami?” Katak itu menjelaskan pada kawan-kawannya bahwa ia tuli. Ia mengira bahwa kawan-kawannya itu menyemangati dia terus menerus.
Cerita ini mengajarkan kita dua hal:

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. (Yakobus 3:9-10)
(13 Nov 02; inhis.com)

Masalah sebenarnya adalah..

Pada suatu malam pada suatu kebaktian di gereja, seorang wanita muda merasakan panggilan Tuhan menyentak di hatinya. Wanita itu menanggapi panggilan Tuhan itu dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Wanita muda itu memiliki riwayat yang kelam di masa lalunya, termasuk alkohol, narkoba dan pelacuran. Tetapi perubahan nampak pada dirinya. Dengan berjalannya waktu ia menjadi anggota yang setia di gereja itu. Ia melibatkan diri dalam pelayanan, mengajar anak-anak kecil.
Tak lama kemudian anak pendeta di gereja itu terpikat pada wanita itu. Hubungan mereka menjadi makin akrab dan mereka mulai merencanakan perkawinan. Saat itu masalah mulai timbul. Kira-kira separuh anggota jemaat berpendapat bahwa seorang wanita dengan masa lalu yang sedemikian buruk bukanlah pasangan yang tepat bagi anak pendeta.
Anggota jemaat mulai berdebat mengenai persoalan itu. Maka mereka memutuskan untuk mengadakan suatu pertemuan. Perdebatan dan ketegangan di rapat itu makin meningkat.
Wanita muda itu sangat tertekan ketika semua tentang masa lalunya diungkit-ungkit. Ketika ia mulai menangis anak pendeta itu bangkit dan berbicara. Ia tak dapat menerima cercaan yang ditujukan pada kekasihnya. Ia mulai berbicara dan pernyataannya demikian: “Bukanlah masa lalu tunangan saya yang sedang kalian adili di sini. Yang Anda pertanyakan adalah apakah darah Yesus mampu menghapus dosa? Hari ini Anda sedang mengadili darah Yesus. Pertanyaan saya, dapatkah darah Yesus menghapus dosa? Jawablah dengan ya atau tidak.”
Seluruh gereja pun mulai menangis ketika mereka menyadari bahwa mereka sedang mengumpat darah Tuhan Yesus Kristus. (27 November 2002)