Monday, March 29, 2010

Ragi..

Banyak dari antara kita, pernah mendengar tentang ragi. Dan pada umumnya ragi lebih dikenal dalam hal membuat adonan kue / roti. Ragi biasa digunakan atau ditambahkan pada adonan, supaya dihasilkan kue / roti yang lebih "mengembang" dan lebih menarik dari ukuran sebenarnya. Seberapa banyak ragi yang ditambahkan adalah menurut keinginan si pembuat kue / roti.

Dalam kitab suci, ragi mewakili sifat-sifat buruk, serta perkataan dan perbuatan yang tidak benar.

Mengapa demikian?

Mari kita perhatikan satu ayat berikut ini:
Gal 5:9 (ILT) Sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan.

Ya, sedikit ragi dapat mempengaruhi adonan secara keseluruhan.
Ragi ibarat pengajaran yang menyimpang; pengajaran yang "lebih" dari yang seharusnya. Pengajaran yang berbeda dari bentuk aslinya.
Dengan kata lain, sedikit legalisme akan menyelewengkan kemurnian dari firman Tuhan.

Apa yang kitab suci katakan tentang sesuatu yang dilebih-lebihkan?

Dalam Mat 5:37 (ITB) tertulis demikian:
"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."


Jadi untuk apa kita melakukan sesuatu yang kelihatan menarik padahal Tuhan tidak memerintahkannya?
Apakah untuk memikat jemaat, agar kelihatan "wahh", heboh / ramai dibanding yang lain?

Atau untuk menyesuaikan dengan dunia yang ada pada saat ini, dimana awal mulanya adalah budaya berhala?


Tubuh kita adalah persembahan yang hidup bagi Tuhan; jika apa yang dikonsumsi oleh tubuh mengandung sesuatu yang cemar, sudah dapat dipastikan Tuhan tidak berkenan pada persembahan kita. Hal-hal yang dikonsumsi oleh tubuh, yang seharusnya berupa makanan "bersih" dan terlebih penting lagi adalah Firman Tuhan (Mat 4:4).

Sejak mulanya, Tuhan mengajar kita untuk membuang hal-hal yang cemar; hal-hal yang
najis. Namun apa yang terjadi kemudian?
Pemahaman yang berbeda tentang pengajaran, membuat hal-hal yang dilarang menjadi sesuatu yang legal atau lumrah.

Apakah ini salah satu bentuk "ragi"?

Tuhan merindukan, sebagai umat tebusanNya, kita dapat hidup seturut dengan kebenaran FirmanNya. Bukan dengan sesuatu yang ditambah-tambahkan, melainkan murni Firman Tuhan.

1 Kor 5:8 (ITB) Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.

Jika ada hal yang berlebihan atau tidak sesuai dengan Firman Tuhan, maka dapat diketahui, darimana hal itu berasal.

Shalom..