Friday, November 17, 2006

Hidup Dalam Dosa

Leonardo Da Vinci adalah seorang pelukis termasyhur di seluruh dunia. Salah satu karya terbaiknya ialah lukisan Monalisa, yang memancarkan suatu senyuman misterius. Pada suatu hari, Leonardo berniat melukis sebuah karya besar, menggambarkan Tuhan Yesus (Yahshua) dengan kedua belas muridNya pada perjamuan malam yang terakhir. Untuk lukisannya ia memerlukan 2 model yang khusus: pertama model untuk Tuhan Yesus (Yahshua), kedua ialah model untuk Yudas. Model untuk Tuhan Yesus (Yahshua) dapat dijumpainya. Seorang pria yang benar-benar cocok dengan konsepnya mengenai Tuhan Yesus (Yahshua). Seorang yang lemah lembut dan penuh kasih. Selesai melukis Tuhan Yesus (Yahshua) dengan 11 orang muridNya, mulailah ia mencari orang yang cocok untuk tokoh Yudas. Ternyata mencari orang yang cocok untuk memerankan Yudas tidak semudah yang diduga. Ia keluar masuk penjara untuk memperhatikan wajah-wajah para narapidana, tukang-tukang copet, bajingan-bajingan dan para pemeras yang biasa berkeliaran dijalanan, tetapi belum juga dijumpainya orang yang cocok. Pencarian ini berlangsung sampai 3 tahun, sampai akhirnya ia menjumpai pengemis yang duduk dekat sebuah selokan. Pengemis ini tampangnya licik, kelihatan pada sorot matanya. Ia merasa, orang inilah yang cocok untuk dijadikan model Yudas. Ia segera menawarkan pekerjaan untuk dilukis sebagai model Yudas. Ketika mulai dilukis, pengemis itu menangis tersedu-sedu, sehingga ia menjadi heran dan bertanya apa sebabnya ia menangis. Pengemis itu menjawab, “ Tuan, apakah tuan sudah lupa pada saya” Tiga tahun yang lalu saya juga pernah duduk disini sebagai model tuan!” Ia mengamat-amati orang itu dengan seksama, dan akhirnya ia ingat bahwa memang benar dahulu ia pernah memakai orang itu sebagai model Tuhan Yesus (Yahshua). Orang itu kemudian melanjutkan, “Dalam waktu 3 tahun, hidupku sedemikian jauh terperosok ke dalam dosa dan kejahatan sehingga akhirnya aku menjadi seperti sekarang ini!”
Leonardo Da Vinci sudah lama meninggal, tetapi kisah ini dapat pula terjadi pada masa kini dalam versi yang berbeda. Jangankan 3 tahun.. 1 tahun, atau bahkan 1 bulan dapat mengubah manusia! Dari orang yang hidupnya salah dan baik, oleh karena dosa dapat menjadi manusia yang hina dan kotor.
“Jadikan hatikan tahir, ya Elohim, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mazmur 51:12)
© Buletin Oikos Vol 8 2006

Labels: , , ,

Thursday, November 16, 2006

Pelukan Kasih Tuhan

Ada seorang pengembara yang sangat ingin melihat pemandangan yang ada di balik suatu gunung yang amat tinggi. Maka disiapkanlah segala peralatannya dan berangkatlah ia. Karena begitu beratnya medan yang harus ia tempuh, segala perbekalan dan perlengkapannyapun habis. Akan tetapi, karena begitu besar keinginannya untuk melihat pemandangan yang ada dibalik gunung itu, ia terus melanjutkan perjalanannya.
Sampai suatu ketika, ia menjumpai semak belukar yang sangat dan penuh duri. Tidak ada jalan lain selain ia harus melewati semak belukar itu. Pikir pengembara itu, “Wah, jika aku harus melewati semak ini, maka kulitku pasti akan robek dan penuh luka. Tapi aku harus melanjutkan perjalanan ini.” Maka pengembara itupun mengambil ancang-ancang dan ia menerobos semak itu. Ajaib, pengembara itu tidak mengalami luka goresan sedikitpun. Dengan penuh sukacita, ia kemudian melanjutkan perjalanan dan berkata dalam hati, “Betapa hebatnya aku!. Semak belukarpun tak mampu menghalangiku.”
Selama hampir 1 jam lamanya ia berjalan, tampaklah dihadapannya kerikil-kerikil tajam berserakan. Dan tak ada jalan lai selain ia harus melewati jalan itu. Pikir pengembara itu untuk kedua kalinya, “Jika aku melewati kerikil ini, kakiku pasti akan berdarah dan terluka. Tapi aku tetap harus melewatinya.” Maka dengan segenap tekadnya pengembara itu berjalan. Ajaib, ia tidak mengalami luka tusukan kerikil itu sedikitpun dan tampak kakinya dalam keadaan baik-baik saja. Sekali lagi ia berkata dalam hati, “ Betapa hebatnya aku! Kerikil tajampun tak mampu menhalangi jalanku.” Pengembara itupun kembali melanjutkan perjalanannya.
Saat hampir sampai di puncak gunung itu, ia kembali menjumpai rintangan, Batu-batu besar dan licin menghalangi jalannya, dan tidak ada jalan lain selain ia harus melewatinya. Pikir pengembara itu untuk ketiga kalinya, “Jika aku harus mendaki batu-batu ini, aku pasti tergelincir dan tanganku serta kakiku akan patah. Tapi aku ingin sampai puncak itu, aku harus melewatinya.” Maka pengembara itu mulai mendaki batu itu dan ia... tergelincir. Aneh, setelah bangkit, pengembara itu tidak merasakan sakit di tubuhnya dan tak ada satupun tulangnya yang patah. “Betapa hebatnya aku! Batu-batu terjal inipun tidak dapat menghalangi jalanku.” Maka iapun melanjutkan perjalanan dan sampailah ia dipuncak gunung itu.
Betapa sukacitanya ia melihat pemandangan yang sungguh indah dan tak pernah ia melihat yang seindah itu. Akan tetapi, saat pengembara itu membalikkan badannya, tampaklah dihadapannya sosok manusia yang penuh luka sedang duduk memandanginya. Tubuhnya penuh luka goresan dan kakinya penuh luka tusukan dan darah. Ia tidak dapat menggerakan seluruh tubuhnya karena patah dan remuk tulangnya. Berkatalah pengembara itu dengan penuh iba pada sosok penuh luka itu, “Mengapa tubuhmu penuh luka seperti itu? Apakah karena segala rintangan yang ada tadi? Tidak bisakah engkau sehebat aku karena aku bisa melewatinya tanpa luka sedikitpun? Siapakah engkau sebenarnya?
Jawab sosok penuh luka itu dengan tatapan penuh kasih, “Aku adalah Tuhanmu. Betapa hatiku tak mampu menolak untuk menyertaimu dalam perjalanan ini. Ketahuilah, saat engkau melewati semak belukar itu, Aku memelukmu erat supaya tidak satupun duri merobek kulitmu. Saat kau harus melewati kerikil tajam, maka Aku menggendongmu supaya kakimu tidak tertusuk. Ketika kau memanjat batu licin dan terjatuh, Aku menopangmu dari bawah agar tak satupun tulangmua patah. Ingatkah engkau kembali padaKu? Pengembara itupun terduduk dan menangis tersedu-sedu. Untuk kedua kalinya, Tuhan harus menumpahkan darahNya untuk suatu kebahagiaan.
Kadang kita lupa bahwa Tuhan selalu menyertai kita dan melindungi kita. Kita lebih mudah ingat betapa hebatnya diri kita yang mampu melampaui segala rintangan tanpa menyadari bahwa Tuhan bekerja di sana. Dan sekali lagi Tuhan harus berkorban untuk keselamatan kita. Maka seperti Tuhan yang tak mampu menolak untuk menyertai anak-anakNya, dapatkah kita juga tak mampu menolak segala kasihNya dalam perjalanan hidup kita dan membiarkan tanganNya bekerja dalam hidup kita?
© Buletin Oikos Vol 8 2006