Friday, October 31, 2008

Sang Messias Tidak Pernah Dipanggil Y-sus

Sebuah kesaksian dari pendeta Burnie Yoseph Schumpert, dia adalah seorang pendeta dari Gereja Southern Baptist. Pengalamannya di saat dia mengetahui bahwa sang Messias tidak pernah dipanggil “Y-sus.”

Dia berkata: “Saya teringat bahwa saya menangis tatkala saya pada kali pertamanya terpikir untuk melepaskan nama Y-sus sebab saya sangat mencintai nama tersebut.”

“Kalian tidak dapat mengelak dari kenyataan mengenai apa yang terlihat dengan mata kalian sendiri, dan walaupun ada kegairahan karena mendapat pewahyuan, akan tetapi terdapat juga kepatahan hati karena mengetahui bahwa kalian telah melandaskan sebagian besar dari iman kalian diatas ajaran-ajaran yang palsu.”

-------------

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa: “Kebenaran adalah sepokok pohon yang menghasilkan buah yang manis.” Dengan kata lain, pada mulanya sangatlah sukar untuk menelannya, akan tetapi, kemudian kalian akan bersyukur bahwa kalian telah melakukannya.

Kita semua datang dari berbagai-bagai latar belakang. Kebanyakan dari kita datang dari kalangan Kristen yang fundamentalis. Jadi kita mungkin saja memiliki persamaan di dalam kepercayaan pokok kita. Pertanyaan saya untuk kalian pada saat ini adalah – “Apakah kalian bersedia untuk naik ke tingkat yang berikutnya dalam pengertian kerohanian kalian?”

Nampaknya tingkat pengertian seseorang mengenai hal ini, dalam ukuran beberapa derajat, dapat dilihat sebagai sebuah takaran dari kedewasaan rohaniah seseorang. Saya telah membagi tingkat-tingkat pengertian mengenai kekuasaan dari Injil, seperti yang saya lihat, kedalam lima tingkat yang berbeda-beda. Ini bukanlah tingkat-tingkat yang bisa di dapati di dalam buku yang manapun, atau apakah mereka mewakili jenis yang manapun dari pembagian-pembagian ajaran pokok yang dianggap oleh Perhimpunan ini (Baptist). Mereka hanyalah pembagian-pembagian ciptaan saya untuk menerangkan dengan lebih baik bagaimana kita bergerak melalui beberapa tingkat dalam pertumbuhan rohaniah kita. Marilah kita mempertimbangkan tingkat yang pertama:

Tingkat pertama: (Kepercayaan tulus)

(Markus 10:14-16)

Sebagai seorang anak kecil, kebanyakan dari kita pernah memiliki pengertian kitab suci yang sangat mendasar. Kita memahami bahwa ia adalah sebuah kitab yang spesial dan bahwa ia menyampaikan berita dari Bapa Surgawi kita untuk mengajar kita cara-cara untuk menjadi orang yang baik.

Saya mungkin baru berumur antara 8 atau 9 tahun sebelum saya mendapatkan bahwa setiap orang di dalam dunia ini tidak mempercayai kitab suci seperti saya dan keluarga saya. Hal itu baik bagi anak-anak yang berada di tingkat yang pertama. Yahshua memuji kebajikan-kebajikan dari imannya kekanak-kanakan. Tetapi, diharapkan, kita tidak hanya tinggal disana. Marilah kita naik ketingkat yang kedua didalam pengertian kita akan kitab suci.

Tingkat Kedua: (Kepercayaan yang membuta) Kepercayaan tulus yang tidak bertumbuh menjadi kepercayaan yang membuta.

(Matius 15:8-14)

Kemudian, saya mendapatkan bahwa ada beberapa terjemahan dari kitab suci untuk dipilih dan orang-orang adakalanya memiliki pendapat yang sangat keras mengenai terjemahan yang mana yang mereka pikir yang terbaik. Sebagain dari kalian cukup dewasa untuk teringat bahwa, untuk beberapa tahun lamanya, tidak terdapat terjemahan yang lain daripada terjemahan King James yang di pakai dalam sebagian besar kalangan iman Kristiani.

Tatkala terjemahan-terjemahan baru mulai bermunculan, ia telah menyebabkan sebuah kegoncangan. Mungkin kalian telah mengalami dan teringat pernah mendengar orang-orang memperbincangkan kegundahan mereka tatkala terjemahan versi Revised Standard, versi International, dan versi American Standard, dan versi Living pada kali pertamanya keluar.

Kalian mungkin juga teringat sebuah pengalaman di saat menghadiri pertemuan gereja dimana terdapat golongan yang setuju dan yang tidak setuju terhadap terjemahan-terjemahan baru ini sedang di perbincangkan dan mungkin kalian teringat bagaimana seorang percaya yang sudah tua berdiri dan menyatakan dengan kemuakan: “Jika kitab King James itu cukup menyenangkan Y-sus, ia cukup baik untuk saya!” Untuk pernyataan yang berani ini, sisa dari kelompok tersebut mengangguk-anggukan kepala mereka tanda setuju dan perbincangan di alihkan kepada pokok yang lain.

Di tingkat kedua seorang percaya mengenali bahwa terjemahan-terjemahan yang beraneka ragam itu ada, tetapi tidak dilanjutkan dengan penyelidikan akan asal usul dari terjemahan-terjemahan tersebut. Kebanyakan orang Kristen mendapatkan diri mereka berada di tingkat ini.

Mengenai Y-sus dan G-d (Tuhan) telah dipakai sebab demikianlah mereka bermunculan di dalam terjemahan-terjemahan yang populer. Saya sangat yakin bahwa jika terjemahan populer semuanya memakai “George” untuk nama dari Bapa dan “Fred” untuk nama dari Putra-Nya, orang-orang ini akan berdoa kepada George dan Fred. Tidak ada kemungkinan-kemungkinan lain bisa di dapatkan sebab terjemahan yang populerlah yang berwenang.

Bagan-bagan bahwa Yohanes Pembaptis sebenarnya adalah Yohanan yang Mencelupkan---bahwa Matius sebenarnya adalah Mattithyahu---bahwa Hawa adalah sebenarnya Hawwah---bahwa Paulus sebenarnya adalah Rabbi Shaul---bahwa kitab Perjanjian Lama sebenarnya adalah Tanak---bahwa kata, “Torat” telah sering di ganti menjadi, “Hukum” --- bahwa kata “anugerah” itu telah sering disalah terjemahkan---bahwa kata “salib”, yang adalah “stauros” di dalam bahasa Yunani, selalu berarti “balok-bersilang”, tonggak, kayusula, atau tongkat untuk berjalan dan bahwa ia tidak pernah di terjemahkan sebagai kata “salib” atau “crux” sampai ia di gunakan untuk kali pertamanya di kitab Latin Vulgate berabad-abad kemudian----bagan-bagan ini, bersamaan dengan yang banyak hal-hal yang lainnya, tidak dihiraukan sama sekali. Kemungkinan akan kebenaran mereka tidak pernah dipertimbangkan lagi sebab terjemahan kedalam bahasa Inggeris pribadi mereka merupakan akhir kata mengenai hal-hal tersebut. Selanjutnya, walaupun hal-hal itu benar adanya, mereka sudah tidak menjadi soal sama sekali.

Sejarah, penggunaan-penggunaan dalam tatabahasa dalam bahasa-bahasa aslinya, logika, dan sampai terjemahan secara harfiah dari sumber naskah-naskah darimana terjemahan populer yang mereka gemari berasal, sudah tidak usah di perbincangkan sama sekali. Terjemahan merekalah yang berwenang.

Pertanyaan-pertanyaan mulai membanjiri benak saya---: Mengapa ketiga nama-nama yang terpenting telah hilang secara menyeluruh dari terjemahan-terjemahan populer? Mengapa Penjelasan-penjelasan tidak menyebutkan apa-apa mengenai hal ini? Dapatkah hal ini terjadi karena sebuah kesalahan besar yang tidak disengaja oleh para penterjemah atau ia adalah merupakan usaha untuk menyelewengkan orang-orang yang percaya sedunia dengan sengaja yang mengerikan?

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana caranya sebuah noda dari kepercayaan kita sudah di rahasiakan untuk berabad-abad lamanya? Jelaslah, jika saya dapat melihat hal ini, seorang pelajar Ibrani akan tahu mengenai hal ini. Mengapa mereka tidak mengajarkan Ibrani kepada saya waktu di Seminary daripada membawa saya melalui 8 semester belajar bahasa Yunani?

Makin saya memikirkan hal ini, makin gusarlah saya. Karena mereka adalah para ahli, dan saya terlonjak dengan perkiraan bahwa guru-guru saya dahulu pastilah mengetahui apa yang baru saya pelajari. Maka dari itu, untuk beberapa minggu lamanya, saya marah kepada bekas guru saya di Seminary dan para professor di Perguruan Tinggi Kitab Suci. Saya anggap mereka telah menghianati kepercayaan saya. Beberapa minggu kemudian, perasaan-perasaan ini telah disusul dengan kemarahan terhadap diri saya sendiri. Saya adalah seorang pendeta Southern Baptist. Saya tahu mengenai seluk beluk yang terperinci yang cukup banyak namun ada disini terdapat sesuatu hal yang besar yang sudah lolos dari pengawasan saya.

Karena saya terobsesi untuk mempelajari semua yang dapat saya jangkau mengenai hal-hal ini dan tentang kesalahan-kesalahan terjemahan yang jelas dari naskah-naskah aslinya. Dalam tempo dua bulan, saya telah belajar bahwa para penterjemah memiliki sebuah istilah untuk terjemahan-terjemahan salah yang sangat menyolok. Mereka menamainya: “padanan yang dinamis.”

Saya dengan segeranya menyadari bahwa saya memerlukan sejilid salinan sendiri dari salinan aslinya dari teks Ibrani; jadi saya membeli sejilid “Biblia Hebraica”, sejilid Kosakata Ibrani/Inggeris, sejilid Kamus Ibrani/Inggeris, sejilid kitab Tatabahasa Ibrani, sebuah Daftar Kata Strong’s yang Lengkap dan Mendalam, ditambah dengan izin dari saudara David Olson untuk menyalin bagian pertama dari kursus bahasa Ibrani di perguruan tinggi yang diikutinya melalui internet. Saya merasa seperti sebuah senapan dengan peluruh yang penuh, siap untuk dibidikan kepada “padanan yang dinamis” yang pertama yang menonjolkan kepalanya.

Akhirnya, saya membeli sebuah kitab suci Interlinear dalam empat jilid (yang mengecewakan waktu mendapatkan ia hanya meletakkan “padanan yang dinamis” yang tradisionil dibawah kata yang diterjemahkan, seolah-olah ia adalah terjemahan yang benar). Izinkan saya berhenti sejenak untuk mengatakan bahwa ini adalah contoh yang terbaik mengapa sangatlah pentingnya untuk mempelajari bahasa Ibrani.

Jika kalian hanya bersandar kepada kecermatan dari terjemahan diantara baris-baris yang mereka akui juga sebagai terjemahan secara harfiah, kalian dapat dengan mudahnya diselewengkan). Saya percaya bahwa siapa saja yang bisa berbahasa Inggeris dapat belajar bahasa Ibrani untuk menguji hal-hal ini dengan mata kalian sendiri.

Apabila kalian sudah tiba di tingkat keempat dari pengertian akan wewenang kitab Injil, hal itu adalah merupakan sebuah pengalaman emosionil. Kalian tidak dapat mengelak dari apa yang kalian pandang dengan mata kalian sendiri, dan walaupun hal yang menggairahkan untuk mengalami kegembiraan karena pewahyuan, akan tetapi terjadi juga kepatahan hati untuk mengetahui bahwa kalian sudah melandaskan sebagian besar dari kepercayaan kalian yang berarti kepada ajaran-ajaran yang palsu. Hal itu akan memerlukan beberapa waktu untuk menyortirnya dan pada masa pengolahan empat soal akan terjadi:

(a) Kalian akan direndahkan hati. Kalian akan menyadari bahwa walau bagaimanapun pasti dan tulusnya kalian terhadap kepercayaan kalian pada waktu yang lalu, ia masih saja bisa salah dalam beberapa hal yang besar. Maka dari itu, kalian tidak akan berani untuk sesumbar mengenai berapa bodohnya orang-orang lain yang tidak setuju dengan pendapat kalian.

(b) Yang kedua, kalian akan belajar untuk menguji hal-hal yang orang-orang lain ungkapkan kepada kalian daripada menerimanya dengan secara membabi buta tentang apa yang mereka katakan adalah kebenaran, hanya oleh karena mereka itu nampaknya begitu baik, atau mereka nampaknya begitu tulus, atau mereka nampaknya begitu jujur, atau karena apa yang mereka katakan sesuai dengan ajaran yang tradisionil, atau karena si pendeta adalah seorang pengkhotbah yang dinamis yang berkarisma. Saya teringat pada waktu saya datang kemari pada pertama kalinya, begitu banyak hal-hal yang ditunggang balikan sehingga saya mulai memeriksa dengan seksama setiap kepercayan yang baru yang saya jumpai sebelum saya mau menerima perkataan seseorang mengenai hal itu. Setelah beberapa waktu barulah saya mau mengenakan sepotong tallit (kain kerudung untuk berdoa), dan baru setelah beberapa minggu baru saya mau mengenakkan sebuah kippah (songkok). Setiap kali saya mempelajari sesuatu yang baru, saya menggali kitab Injil---- Hal ini baik adanya. Sebenarnya, sangatlah pentingnya bagi kalian untuk dapat memastikan kepercayaan kalian. Dengan penggalian-penggalian kitab Injil yang berlanjut teruslah yang menjadi penyebab mengapa saya dapat belajar lebuh banyak lagi di dalam dua tahun yang pertama, daripada waktu saya menghadiri program-program pelajaran kitab Injil di Seminary baik di Hardin-Simmons dan dirangkaikan dengan Southwestern Baptist Theological Seminary. Ini bukanlah merupakan tingkat permulaan dari penginjilan untuk pelayanan jangkauan keluar. Ini merupakan pelajaran tingkat perguruan tinggi “shul” (sekolah). Iman Messianic bukanlah untuk orang percaya yang malas yang tidak ingin belajar. Akan tetapi ia akan menuntun kalian kepada sebuah kebenaran, supaya kalian akan mengetahui bahwa kalian memahami soal yang kalian imani.

Dan di tingkat ketiga, iman kalian akan hidup. Ia adalah sebuah petualangan. Kita baca di 2 Timotius 3:5 --- “sambil mengenakan suatu bentuk kesalehan tetapi telah memungkiri kuasanya”. Sekali kalian mengetahui kebenaran dari nama sebenarnya dari Bapa Surgawi dan Putra-Nya, sekali kalian mendapatkan bahwa Yahshua dan para murid-Nya bukanlah orang-orang Kristen seperti apa Gereja mencoba untuk mengajarkan kepada kalian, akan tetapi mereka adalah Natzarim (Para guru Yahudi yang beribadah di sinagoge, bukan seorang “Kirchi”, sebuah tempat beribadah yang berbentuk bundar untuk menyembah “Circe,” ilah perempuan bagi musim-musim dari para penyembah berhala [dari sinilah datang kata Church]. Yahshua dan para murid-Nya [yang di ajari-Nya] memakai tzitzit dari sejak mereka berumur tiga tahun--- mereka dengan setianya mengenakan tefilim setiap hari sejak berumur 12 tahun--- pakaian luar mereka adalah sepotong tallit, sama seperti yang diajarkan oleh Ruven Preger setiap kali dia datang untuk menunjukkan pakaian-pakaian Ibrani yang tulen, mereka menyembah pada hari Sabbath yaitu dari terbenamnya matahari pada petang Jumaat, ke terbenamnya matahari pada Sabtu petang, setiap Sabbath tanpa gagal---dan mereka akan memilih kematian daripada merubah Sabbath mereka dari hari Sabtu kepada hari Minggu.

Mereka mentaati semua Sabbath yang diperintahkan, hari-hari raya, hari besar yang diperintahkan di torat dan mereka melakukannya dengan cinta-kasih dan sukacita. Kesukaan mereka yang terbesar adalah Torat dan mereka menjalani kehidupan mereka dengan iman, bukan oleh hukum. Kitab Injil mengatakan bahwa Yahshua mengambil bagian dari perayaan Channukah, Pesta Pengabdian, akan tetapi kalaupun Natal telah ada pada masa hidup-Nya, saya yakin Dia ataupun para murid-Nya tidak akan merayakannya. Yahshua gemar untuk memelihara pesta “Buah Bungaran” sebab ia menampilkan gambaran yang sebenarnya dari kebangkitan-Nya dan persembahan unjukan dihadapan Bapa, akan tetapi Dia akan memberontak dengan tradisi Gereja yang merayakan Easter (Paskah Kebangkitan) yang menyerupai dalam banyak hal seperti penyembahan kepada dewi Ishtar.

Yahshua tidak akan menggunakan penanggalan Gergorian yang menunjuk kepada penyembahan kepada berhala-berhala, atau menyebutkan nama-nama hari seminggu, yang semuanya memakai nama berhala-berhala sebab kitab Injil dengan jelasnya mengajarkan agar tidak ada nama ilah lain yang diucapkan dari bibirmu---Dia bukanlah si Yunani “Alpha dan Omega”, tetapi Dia adalah orang Ibrani “Alef dan Taw”, dan Dia tidak pernah dinamai Y-sus selama hidup-Nya.

Saya harap saya tidak menyinggung perasaan seseorangpun, akan tetapi disini saya harus berhenti untuk mengucapkan:---jika kalian tidak peduli bahwa Messias tidak pernah dinamai “Y-sus”, dan kalian lebih menyukai memanggil-Nya Y-sus sebab demikianlah kalian sudah terbiasakan---ada sesuatu hal yang salah berat dengan logika ataupun iman kalian.

Mempelajari kitab Injil dengan pola pikir seorang Ibrani, kita dapat membuka kembali lapisan-lapisan yang kita telah dicekoki selama berabad-abad melalui “Gereja Roma Sedunia (Katholik)” yang telah dibentuk oleh orang-orang non-Yahudi yang membenci orang Yahudi di abad keempat. Hal ini memerlukan waktu pengolahan dan pengabdian.

Apabila kalian melandaskan iman kalian kepada pencairan dalam terjemahan-terjemahan populer dari kita Injil yang penuh dengan apa yang dinamai “padanan yang dinamis” untuk menghindari cemohoan kepada “Gereja” yang sudah mapan dan untuk memastikan agar terjemahan-terjemahan tersebut dapat diterima oleh sistim iman Kristiani yang populer, kalian tidak akan memiliki kekuatan pribadi di dalam kepercayaan kalian.

Sampai disini, seseorang akan mungkin mengatakan: “bagaimana dengan pelayanan-pelayanan yang dinamis dan hal-hal yang mengesankan bahwa Gereja nampaknya sedang alami dalam beberapa hal?” Tanggapan saya adalah bahwa sampai kalian memahami kebenaran-kebenaran Messianic, Yahweh akan “berkedip” akan ketidak-tahuan kalian dan masih memberkati kalian. Pada taraf ini, hal tersebut masih belum merupakan kesalahan kalian. Saya pikir bahwa kita semua dapat membuktikan kenyataan bahwa jika bukan oleh karena kesabaran dan toleransi dan pengampunan Bapa, kita semuanya akan berada di dalam kesukaran besar. Akan tetapi akan tiba satu harinya bilamana Dia tidak akan “berkedip” lagi. Hal itu berarti jika berita ini telah membunyikan lonceng kebenaran di dalam roh kalian, tatkala kalian keluar dari tempat ini pada malam ini, Yahweh akan tidak lagi memandang kalian sebagai seorang yang tidak bersalah dan tak berpengetahuan dan tidak bertanggung jawab. Kalian tidak akan pernah lagi berdiri dihadapan-Nya dan berkata, “Saya tidak tahu.”

Hal itu mungkin terdengar sangat kasar, tetapi kabar baiknya adalah bahwa apabila kalian mengetahui kebenaran karena kalian dapat memandangnya dengan mata kalian sendiri hari demi hari, tatkala kalian mendapatkan sebuah butir lagi dari teka-teki bersambung, kalian meletakkannya di dalam kehidupan kalian dan memulai menjalankan kehidupan dari sejak itu --- dan kalian mulai menggunakan Nama-nama sebenarnya, dan kalian untuk pertama kalinya mulai menyembah dalam cara yang senantiasa diinginkan-Nya agar kalian lakukan --- dan kalian mulai mengetahui apa arti sebenarnya dari “dipisahkan” (dikuduskan) itu---disanalah penyembahan akan menjadi sangat menggairahkan.

Dan pada tingkat keempat --- selagi kalian menyortir kepercayaan yang baru ini di dalam tingkat pengertian yang keempat, kalian akan merasakan bahwa kalian sedang melepaskan sebanyak-banyaknya dari apa yang kalian sudah pelajari untuk menjadi gembira dan mengasihi, kalian mungkin tidak mau melakukannya. Saya teringat bahwa saya pernah menangis tatkala saya untuk pertama kalinya berpikir untuk melepaskan nama dari Y-sus sebab saya menyukai bunyinya sedemikian hebatnya. Sangatlah aneh rasanya untuk berdoa dalam Nama Yahshua. Pada mulanya saya senantiasa lupa dan ia akan keluar dari mulut saya secara tak terduga. Akan tetapi sekarang, Nama Yahshua, atau Yahshua adalah sangat lebih indah pada telinga saya sebab ia memiliki kedalaman makna yang dahsyat dan karena ia bukanlah yang palsu---ia adalah yang sebenarnya.

Saya telah menulis dua jilid berkas-berkas panjang untuk arti dari “Yah” dan dari “Yahshua”, akan tetapi tidak seorangpun dari antara kalian yang pernah mendengarkan sebuah khotbah dari mimbar gereja mengenai arti dari nama Y-sus, sebab ia adalah sebuah nama yang datang kepada kita yang bersumber dari para penyembah berhala dari abad keempat. Sebagian dari kalian masih sedang menyortir soal pesta Natal secara pribadi dan bersama keluarga.

Setiap tahun, kalian melihat tanda-tanda yang mengatakan “Letakkan kembali Kristus di dalam Christmas” dan “Ia bukanlah tentang harga murah di mall, ia mengenai seorang bayi di dalam sebuah palungan.” Bagi mereka yang ingin merayakan musim yang kudus dengan nekat mencoba sebaik-baiknya---tetapi kalian tidak dapat mengambil sesuatu yang pada dasarnya adalah dari berhala dan menguduskannya. Hal itu tidak akan bisa terlaksana. Dari segi lain --- pernahkah kalian melihat sebuah tanda yang mengatakan: “Kembalikan ‘chanuk’ kepada ‘Channukah?’ Saya tahu saya sedang berguyon disini, saya tahu bahwa saya sedang berguyon untuk menegaskan hal ini.

Channukah dilandaskan atas dasar yang pada mulanya memang mengenai hal yang kudus. Ia adalah landasan bangunan, sebuah peringatan yang benar dari hal yang baik yang mengalahkan kejahatan. (Maka dari itu, dunia tidak mau menerimanya). Saya tidak mengatakan bahwa tidaklah mungkin ia di cemarkan oleh keduniawian. Akan tetapi saya mengatakan bahwa lebih gampanglah untuk menguduskan sesuatu yang memang kudus asalnya. Ingatkanlah hal ini dan pelajarilah dengan baik--- setiap kali Yahweh menyuruh kalian untuk melepaskan sesuatu, Dia akan memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik untuk menggantikannya.

Jika kalian baru memasuki tingkat keempat pada saat ini, saya mau mendorong kalian untuk tidak menyerah. Walaupun pohon kebenaran nampaknya pahit pada mulanya, dalam beberapa saat kemudian ia akan menghasilkan buah yang manis. Kalian tidak akan menyesal untuk melakukan apa yang kalian ketahui benar adanya. Jangan lupa---Wewenang kita berada di dalam naskah-naskah yang asli yang ditulis di dalam bahasa aslinya.

TERJEMAHAN-TERJEMAHAN POPULER HANYA MEMILIKI WEWENANG SEJAUH MEREKA MENYATAKAN DENGAN BENAR MAKNA ASLI YANG DI DAPATI DI DALAM NASKAH-NASKAH YANG MULA-MULA, DAN DI DALAM BAHASA-BAHASA ASLINYA.

Hal ini berarti bahwa terjemahan kedalam bahasa Inggeris yang terbaikpun (sampai kepada terjemahan yang kita pakai yang dinamai, “The Scriptures”) akan akan ada kekurangan yang menyedihkan untuk menyatakan sepenuhnya ayat-ayat yang penting. Kita harus belajar untuk kembali kepada teks yang aslinya. Apakah itu sulit --- tentu saja. Apakah hal itu ada nilainya? Sebaiknya saya menanyakan hal itu dengan cara lain---Apakah tujuan kalian kepada kekekalan penting bagi kalian? Demi kebaikan kalian dan kebaikan untuk orang-orang yang memandang kalian untuk bimbingan dan di contoh, marilah kita membenahi diri dengan melakukan yang benar mulai sekarang ini. Marilah kita mengenal dan mengakui wewenang kitab suci yang benar, lalu kita membangun kepercayaan kita di atasnya!!!

Di hari Sabbath yang mendatang, saya akan mengungkapkan bagian kedua dari berita ini dimana saya akan berbagi dengan kalian tingkat pengertian yang kelima. (Ya, tingkat kelima, mau percaya apa tidak). Tingkat ini menyangkut pengakuan akan pola sejarah dan perbedaan-perbedaan yang menyolok dalam sikap-sikap dari antara para penulis Ibrani dan para penterjemah orang non-Yahudi yang dini dalam hal yang berhubungan dengan ketepatan dari Tanak (Perjanjian Lama).

Terima kasih untuk perhatian kalian pada malam ini dan semogah Yahweh, melalui “pancaran” (dalam bahasa Ibrani berarti ‘memperanakan’) Putra-Nya, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup, memimpin kita untuk menjadi serupa dengan kemuliaan-Nya melalui persekutuan dengan penderitaan-Nya. Amin.

Labels: , , , , , , , , ,

Tuesday, October 28, 2008

The Messiah was never called “J-sus”

A testimony from Burnie Yoseph Schumpert ,he had been a Southern Baptist minister. His experience when he found out that the Messiah was never called “J-sus He said:" I remember that I wept when I first thought of giving up the name of J-sus because I loved the sound of it so much." "You can not deny what you see with your own eyes, and even though it is thrilling to experience the joy of revelation, but there is also the heart break of knowing that you had based a significant portion of your faith upon false teachings."
-------------
There is a saying that: “Truth is a bitter tree which yields sweet fruit.” In other words, it is hard to swallow at first, but later on, you are glad that you did. We all come from different backgrounds. Most of us came from a Fundamentalist Christian environment. So we probably have some similarities in our fundamental beliefs. My question to you tonight is---”Are you ready to go the next level in your spiritual understanding?” It seems to me that a person’s level of understanding of this issue, to some degree, can be seen as a measurement of one’s spiritual maturity. I have divided the levels of understanding about the authority of the Scriptures into what seem to me to be five different levels. These are not levels which are found in any book, nor do they represent any type of doctrinal divisions ascribed to by this Assembly. They are merely divisions which I made up in order to better explain how we go through stages in our spiritual growth. Let us consider the first level: First Level: (Innocent faith) (Mark 10:14-16) As a child, most of us had a very basic understanding of the Bible. We knew that it was a very special book and that it was a message from our Heavenly Father to teach everybody how to be good. I was probably at least 8 or 9 years old before I discovered that everyone in the world didn’t believe in the Bible like my family and I did. It is good for children to be in the first level. Yahshua extolled the virtues of a child-like faith. But, hopefully, we won’t just stay there. Let’s go on to the second level in our understanding of the Scriptures. Second Level: (Blind faith) Innocent faith without growth becomes blind faith. (Matt. 15:8-14) Later, I found that there were different translations of the Bible from which to choose and that people sometimes had very strong opinions about which translation that they thought was best. Some of you are old enough to remember that, for many years, there was nothing but the King James Translation used in most circles of Christian faith.

When the new translations began to appear, it caused quite a stir. Perhaps you have had the experience in the back of your memory of hearing people discussing their concerns when the Revised Standard Version, the International Version, and the American Standard Version, and the Living Version first came out. You may even recall an experience of attending a church meeting at which the pros and cons of these new translations were being discussed and you may remember how an elderly believer stood up in disgust and declared: “If the King James Bible was good enough for J-sus, it’s good enough for me !” To this bold statement, the rest of the group agreeing nodded their heads and the discussion was changed to another topic. In the second level a believer recognizes that various translations exist but no connection has been made as to where those translations came from. Most Christians find themselves in this level.

The references to J-sus and G-d are used simply because that’s the way that they appear in their popular translations. I actually believe that if the popular translations all used “George” for the name of the Father, and “Fred” for the name of the Son, these people would be praying to George and Fred. No other possibilities can exist because their popular translation is their authority.
The concepts that John the Baptist was really Yohanan the Immerser---that Matthew was really Mattithhahu---that Eve was really Hawwah---that Paul was really Rabbi Shaul---that the Old Testament is really the Tanak---that the word, “Torah” has frequently been changed to the word, “Law” --- that the word “grace” has often been mistranslated---that the word “cross”, which is “stauros” in Greek, always meant “cross- beam”, pole, stake, or walking stick and that it was never translated as the word, “cross” or “crux” until it was first used in the Latin Vulgate centuries later----
these concepts, along with many, many more just don’t matter. They are not even considered possible to be true because their personal English translation is the final word in all such matters. Further more, even if they were true, it wouldn’t matter.

History, grammatical usages of the original languages, logic, and even the literal translation of the source manuscripts that their favourite popular translation came from are simply out of the question for discussion. Their translation is their authority. Their motto might well be: “Life is simple, life is sweet, with my translation, don’t compete”. Don’t bother me with truth, I’m happy where I’m at. (Before any of us quickly jump to make fun of such believers, let us remind ourselves that most of us were at this level ourselves not too long ago.)
Questions began flooding into my mind---: Why were these three most important Names completely missing from the popular translations? Why didn’t the Commentaries mention anything about this? Could this be just a gigantic accidental mistake by the translators or was this a horrible and intentional misleading of the world’s believers?

How could this happen? How could such a huge glitch in our faith have been kept a secret for so many centuries? Obviously, if I could see this, any diligent Hebrew scholar knows about it. Why didn’t they teach me Hebrew in Seminary instead of putting me through 8 semesters of Greek?
The more I thought about it, the madder I got. Since they were professions, I jumped at the assumption that my former teachers must surely have known what I had just learned. So, for a few weeks I was angry at my former Seminary and University biblical professors. I considered that they had betrayed my trust. Then these feelings were followed a few weeks later with feelings of anger toward myself. I had been a Southern Baptist minister. I knew many intricate details but here was something huge that had slipped right by me. It became my obsession to learn all that I could about these things and about any other obviously incorrect translations from the original manuscripts. Within a couple of months, I learned that the translators had a term for their blatantly incorrect translations. They called them: “dynamic equivalents”.

I quickly realized that I needed my own copy of the original copy of the Hebrew text so I bought a “Biblia Hebraica”, a Hebrew/English Lexicon, a Hebrew/English Dictionary, a book on Hebrew Grammar, a full size Strong’s Exhaustive Concordance, plus Brother David Olson permitted me to copy the first portion of a Hebrew college course that he was taking over the internet. I felt like a loaded shotgun, ready to be aimed at the first “dynamic equivalent” that stuck up it’s head.
Finally, I bought an Interlinear Bible in four volumes (which I was disappointed to find did nothing but place the traditional “dynamic equivalent” directly under the word being translated, as if it were the correct translation. Let me pause here to say that this is a perfect example of why it is important to learn Hebrew.

If you depend upon the accuracy of the interlinear translation which they claim to be a literal translation, you could easily be misled.) (*See Overhead Examples) I believe that anybody who can read English can learn enough Hebrew to verify these things with your own eyes.
When you come into the fourth level of understanding the authority of the Scriptures, it is an emotional experience. You can not deny what you see with your own eyes, and even though it is thrilling to experience the joy of revelation, but there is also the heart break of knowing that you had based a significant portion of your faith upon false teachings. It takes some time to sort all this out and in the process four things will happen: (a) You will be humbled. You will realize that no matter how sure and sincere you were about your faith before, it is still possible to be wrong on some major issues. Therefore, you are not as likely to boast about how foolish everyone else is who doesn’t agree with you.

(b) Second, you will learn to test the things that people tell you rather than just blindly accepting what they say to be true because they are so nice, or they seem to be so sincere, or because what they say is the traditional teaching, or because the preacher is a dynamic preacher who has charisma. I remember when I first came here, so many things were turned upside down that I began to thoroughly check every new belief that I encountered before just accepting anyone’s word on it. It was some time before I would wear a tallit, and it was a number of weeks before I would wear a kippot. Each time I learned something new, I dug into the Scriptures ----This is good. In fact, it is essential in order for you to be sure of your faith. This continual digging into the Scriptures is the reason why I learned more here in the first two years than I did when I attended the biblical studies programs at both Hardin-Simmons and at the Southwestern Baptist Theological Seminary combined. This is not a beginning level evangelistic outreach ministry. This is a university level teaching “shul” (school). The Messianic Faith is not for the lazy believer who is not willing to study. But it will lead you into a truth, so that you will know that you know what you know.
And third level, your faith will come to life. It will become an adventure. We read earlier in II Timothy 3:5--- “having a form of reverence but denying it’s power”. Once you know the truth of the real Names of the Heavenly Father and His Son, once you find out that Yahshua and His Disciples were not Christians as the Church tries to teach you, but they were Natzarim (Jewish Rabbis who worshipped in the synagogue, not a "Kirchi", a round worship place for the worship of the female, pagan deity of the seasons called “Circe” (this is where the word Church came from). Yahshua and His Disciples (His ”taught ones”) wore tzitzit from the time they were three years old--- they faithfully put on tefilim every day from the age of 12--- their outer garment was a tallit, just as Ruven Preger teaches us each time he comes to make a presentation of his authentic Hebrew garments, they worshipped on Sabbath which is from Friday, sundown to Saturday, sundown every Sabbath without fail---and they would have chosen death rather than to change their Sabbath from Saturday to Sunday.

They observed all the required Sabbaths, feast days, and holy days commanded in the Torah and they did it lovingly and with joy. Their greatest delight was the Torah and they lived their lives by faith, not by legalism. The Scriptures say that Yahshua participated in Channukah, the Feast of Dedications, but even if Christmas had existed in His day, I don’t believe that He or His Disciples would have wanted to have anything to do with it. Yahshua loved keeping the festival of “First Fruits” because it was a true picture of His resurrection and the wave offering before the Father, but he would have been revolted with the traditional Church celebration of Easter which resembles in so many ways the pagan worship of the female deity, Ishtar.

Yahshua would not use the Gregorian calendar with it’s pagan references, nor would He speak the days of the week, which are all named after a pagan deity because the Scriptures clearly teach not to let the name of a pagan god proceed from your lips--- He is not the Greek “Alpha and the Omega”, but He is the Hebrew “Alef and the Taw”, and He was never called J-sus in His lifetime !!!
I hope that I don’t offend anyone, but I feel that I must pause here to say: --- if it doesn’t make any difference to you that the Messiah was never called “J-sus”, and you prefer to continue calling Him J-sus because that’s what you are used to---- something is seriously wrong with your logic or your faith. Through studying the Scriptures with a Hebrew mindset, we can peal back the centuries and layers of lies that we have been fed through the “Roman Universal (Catholic) Church” which was established by gentiles who hated the Jews in the fourth century. This is a process which takes time and dedication When you base your faith on the watered down popular translations which are full of the so called “dynamic equivalents” in order avoid embarrassment to the established “Church” and to assure that the translations fit into the socially accepted popular Christian belief systems, you will not have personal power in your faith.

At this point, someone may say: “but what about the dynamic ministries and impressive things that the Church seems to be experiencing in some cases?” My answer is that until you know the Messianic truths, Yahweh will “wink” at your ignorance and bless you anyway. At that point it is not your fault. I think that we can all attest to the fact that was it not for the Father’s patience, and tolerance and forgiveness, we’d all be in trouble. But there is coming a day when He will “wink” no more. That means that if this message is ringing truth in your spirit, when you walk out of here tonight, Yahweh will no longer look at you as innocent and ignorant and unaccountable. You will never again be able to stand in front of Him and say, “I didn’t know.”

That may sound harsh, but the good news is that when you know the truth because you have seen it with your own eyes and day by day, when you find another piece of the puzzle, you put it into your life and begin to live it from then on--- and you start using the real Names, and you for the first time begin to worship in the way that He always wanted you to---and you begin to find out what being “set apart” really means---that’s when worship gets exciting!!!!
And fourth level---as you sort this new faith in this fourth level of understanding you are going to feel that you are giving up so much of what you have learned to enjoy and to love, You may be reluctant to do that. I remember that I wept when I first thought of giving up the name of J-sus because I loved the sound of it so much. It felt so strange to pray in the Name of Yahshua. At first I was constantly forgetting and it would slip out of my mouth accidentally. But now, the Name Yahshua, or Yahshua is so much more beautiful to my ear because it has such depth of meaning, and because it is not a fake--- it is the real thing.

I have written two full length papers on the meaning of “Yah” and of “Yahshua”, but none of you have ever heart a sermon from a Church pulpit on the meaning of the name J-sus, because it is a name which comes to us from pagan sources of the fourth century.Some of you are still in the midst of sorting out Christmas personally and with your families.

Every year, you see signs which say “Put Christ back in Christmas” and “It’s not about a bargain at the mall, it’s about a babe in a manger.” Those who want to make the season something holy are desperately trying their best---but you can’t take something which fundamentally pagan in structure and sanctify it. It is never going to happen. On the other hand---have you ever seen a sign which says: “Put the ‘chanuk’
back in Channukah”? I know I’m being silly here, but I want to make a point IknowI’mbeingsillyherebutIwanttomakeapoint. Channukah is based upon that which is holy to begin with. It is, in it’s structural foundation, a righteous remembrance of good which conquers evil. (That is why it is not accepted by the world.) I’m not saying that it’s not possible to be corrupted by secularism. But I am saying that it much easier to keep it holy because it is something holy to begin with. Remember this and learn it well--- every time Yahweh asks you to give something up, He will always give you back something better in it’s place. If you are just entering into this fourth level right now, I encourage you to not give up. Though the tree of truth may seem to be bitter at first, it will in time yield sweet fruit. You’ll never regret doing that which you know is right. Don’t forget---Our authority is in the original manuscripts in their original languages.

THE POPULAR TRANSLATIONS HAVE AUTHORITY ONLY TO THE EXTENT THAT THEY CORRECTLY EXPRESS THE TRUE MEANINGS WHICH ARE FOUND IN THE ORIGINAL MANUSCRIPTS, AND IN THE ORIGINAL LANGUAGES.
This means that even the best English translation (even the translation which we use called, “The Scriptures”) will be woefully lacking to fully express many important passages. We have to learn to get back to the original texts. Will it be hard---certainly. Will it be worth it? Well, let me ask that question in another way---Is your eternal destination of any concern to you? For your sake and for the sake of all those who look to you for their instruction and their example, let’s get it right this time. Let’s recognize our biblical authority and then let’s build our faith on it !!!
Next Sabbath, I will be presenting the second part of this message in which I will share with you a fifth level understanding. (Yes, a fifth level, believe it or not.) This level involves the recognition of a historical pattern and a profound difference in attitudes between the Hebrew scribes and the early gentile translators as it relates the accuracy of the Tanak (the so called, “Old Testament”) and the B’rit Chadashah, the “Renewed Covenant” (the so called, “New Testament”). I hope you will be here next Sabbath to hear this messenger.

Thank you for your kind attention tonight and may Yahweh, through His only “emitted” (the Hebrew meaning of ‘begotten’) Son, Who is the Way, the Truth, and the Life, lead us all into the likeness of His glory through the fellowship of His suffering. Amein.

Labels: , , , , , ,

Wednesday, October 15, 2008

Tidak ada jalan alternatif..

Maksud dari tulisan ini adalah, tidak adanya "pengalihan" dalam hal "Jalan" keselamatan.
Timbul beberapa pertanyaan:

1. Tentang Keselamatan

Selamat dari apa?
Selama ini hidup yang dijalani sudah mencukupi, bahkan hidup secara melimpah. Jadi selamat dari apa? dari kemiskinan? dari kelaparan? dari badai, mungkin?
Semua orang sudah berdosa sejak dilahirkan. Oleh karena itu, semua orang akan berusaha berbuat baik semasa hidupnya. Agama manapun mengajarkan tentang kebaikan, tentang dosa, tentang "metode" pengampunan dan lain sebagainya. Orang baik akan masuk sorga, orang jahat akan masuk neraka. Dalam mencapai "kebaikan" tersebut, berbeda-beda cara yang ditempuh. Ada yang menyiksa diri, ada yang berbuat baik pada waktu-waktu tertentu, ada yang berdoa keras-keras supaya doanya didengar dan kelihatan kalo sudah berbuat "baik".
Baik menurut siapa?
Menurut manusia atau menurut Tuhan?
Kalo menurut Tuhan, Tuhan yang mana?
Semua hal-hal baik yang dilakukan disini supaya apa?
Pastinya supaya beroleh selamat, mencapai dunia baru setelah kematian. Dunia lain yang sering-sering disebut sorga. Tempat dimana tidak ada lagi ratapan, tangisan, sakit penyakit, tubuh yang menua. Yang ada hanya sukacita yang tak tergantikan.

2. Jalan Keselamatan

Firman Tuhan mengatakan dengan jelas bahwa hanya melalui Yahushua akan sampai kepada Bapa YHWH. Tidak ada "Jalan" lain.
Apakah Yahushua mengatakan, "Aku salah satu jalan?"
atau "Aku salah satu kebenaran?"
Tidak demikian; melainkan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh 14:6)

Joh 14:6 יהושע said to him, “I am the Way, and the Truth, and the Life. No one comes to the Father except through Me.

Jadi sudah sangat jelas bahwa tidak ada jalan alternatif lain menuju sorga, hanya melalui Yahushua sang Mesias

3. Sang Juruselamat

Sejak jaman Musa (Mosheh), Tuhan sudah menetapkan sebuah bangsa untuk dijadikan umat pilihan. Dan melalui bangsa tersebut, sang Mesias akan dilahirkan. Bangsa yang menyembah יהוה yang adalah Tuhan semesta alam. Tuhan yang disembah oleh Abraham (Aḇraham), Ishak (Yitsḥaq), Yakub (Yaʽaqob), Daud (Dawid) dan masih banyak lagi umat pilihan Tuhan lainnya. Namun karena kedegilan hati dan tegar tengkuk, bangsa ini tidak percaya bahwa Mesias yang
dijanjikan sudah datang kedunia.
Mesias yang membawa nama Bapa YHWH (יהוה)
Mesias yang dielu-elukan "diberkatilah Dia yang datang dalam Nama TUHAN"

Mat 21:9 And the crowds who went before and those who followed cried out, saying, “Hoshia-na to the Son of Dawiḏ! Blessed is He who is coming in the Name of יהוה! Hoshia-na in the highest!”

Mesias yang adalah Yahushua ( יהושע ) yang berarti YHWH (יהוה) menyelamatkan.

..sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Yoh 4:22

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." Kis 4:12

HalleluYAH (Praise YAH)

Labels: , , ,