Naked Couple
Sepasang kekasih, hidup di glamornya metropolis. Hari-hari mereka penuh dengan keceriaan. Semu. Keluar masuk mal, habiskan malam di café. “Dugem bo..”, kata mereka.
Asap mengepul, mulut bau alkohol. Ngga asing lagi. Semua itu udah jadi gaya hidup.
“Kalian telanjang..”, seorang renta berucap.
Ketawa sinis dibalasnya. Langkah bergontai ke tempat kongkow.
Satu malam lagi berakhir di pit stop.
Bangun siang, kepala pening.
“Uhh.. panas banget dunia ini..”
Sederet acara pesta udah mengantri.
Hunting pakaian dan aksesoris yang up to date. Oo.. itu pasti...
Malam menjelang, bukannya sepi malah sebaliknya. Untuk daerah tertentu emang gitu…
Kembali dalam ingatan, setelah seorang nenek nyeletuk “Kalian telanjang..”
Sambil berpandangan mereka meninggalkannya.
“Ngapain sih tuh orang tua..??”
Bangun pagi, kata-kata itu membuat mereka tidak tidur nyenyak. Berharap malam segera tiba, mencari lamunan misteri.
“Rese.., orang tua itu ga ada ditempat biasa..”
Malam berganti pagi.
Rasa penasaran makin ga tau diri.
“Apa yang kalian cari..??”
“Bukankah selama ini sudah kalian dapati harga diri..??”
“Itu semua memang kami yakini kami miliki.”
“Tapi kami mulai bosan dengan rutinitas ini.”
“Dan kenapa kamu selalu bilang kami telanjang..??”
“Aku berkata sesuai yang aku lihat”
“Segala kebobrokan kalian, mengikis habis pakaian rohani kalian”
“Kalian sangat mudah dipengaruhi si jahat”
“Kesenangan dunia ini, berkat yang kalian terima, tidak membuat kalian mendekatkan diri pada Tuhan”
“Apa pedulimu..??”
“Banyak orang melalui kamu, kenapa hanya kami yang dituduh seperti itu..??”
“Aku tidak menuduh kalian, apa untungnya buat aku??”
“Aku hanya mendengar suara yang memperkatakannya kepadaku”
“Dalam dunia roh, mereka-mereka yang telanjang sebenarnya tidak terlalu digubris oleh si jahat”
“Tetapi selama kalian telanjang, itu berarti kalian berada dalam genggamannya”
“Kalian tidak akan pernah dilepaskan, sampai ada keinginan dalam diri kalian untuk merendahkan diri dan mohon kuasa Tuhan melepaskan semua belenggu itu”
“Kami sama sekali tidak merasa terbelenggu”
“Kami menikmatinya”
“Kalian masih saja menipu diri sendiri”
“Jika kalian merasa nyaman, apa yang kalian lakukan disini??”
Merasa terusik batinnya, merekapun pergi meninggalkan si tua.
Hari berganti hari.
Orang tua itu ga pernah kelihatan lagi.
Penasaran jadi introspeksi.
“Siapakah orang tua itu..??”
“Apa maksud dari semua ini..??”
“Kalo saja kita bisa bicara panjang lebar, mungkin kita tahu maksud si nenek tua..”
Dugem ga penting lagi, malahan semua rasanya basi.
Pencarian jati diri.. hhh.. ga ada arti..
“Dunia roh..??”
“Hmm.., kayaknya lebih menarik dari kedengarannya”
“Tapi apa ini berarti seperti praktek-praktek perdukunan??”
“I don’t think so, if we could find the Guru..”
Jalan ke mal.., tetep..
Tapi kali ini lebih ke bagian-bagian buku..
Cari sesuatu yang mungkin bisa jawab rasa penasaran mereka.
Keluar masuk bookstore ga membuat mereka puas.
Sampai suatu ketika mereka dapat buku tentang Mukendi.
Setelah beberapa hari membaca, terjawablah rasa keingintahuan mereka.
Dunia roh, telanjang (naked) & The Guru…




0 Comments:
Post a Comment
<< Home